Popularitas pariwisata Lombok mungkin memang masih belum bisa menyamai Bali. Pulau yang letaknya bersebelahan dan hanya terpisah selat ini merupakan langganan pemuncak daftar tempat wisata populer dunia. Apalagi sampai sekarang kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke Lombok datang melalui Bali, baik melalui udara maupun laut. Namun seiring dengan gencarnya promosi pariwisata yang dibarengi pembangunan infrastruktur dan penataan obyek-obyek wisata oleh Pemerintah Daerah setempat, popularitas pariwisata Lombok berangsur menanjak. Hal ini dibuktikan dari statistik kunjungan wisatawan yang datang kesana.

Saat memberikan sambutan dalam acara¬†Forum Group Discussion (FGD) yang digelar di Hotel Fizz, Mataram pada tanggal 26 Juli 2017 lalu, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Amin, memaparkan bahwa kunjungan wisatawan ke NTB pada semester pertama tahun 2017 ini mencapai angka 1 juta orang. Tidak heran kalau Pak Wagub optimis bahwa target kunjungan wisatawan sebanyak 3.5 juta pada tahun 2017 ini akan terlampauai. Perlu diketahui, musim-musim liburan baik domestik maupun internasional hampir semuanya terkonsentrasi pada semester kedua. Jadi kalau pada semester pertama yang didominasi “low season” saja jumlah kunjungan wisatawan sudah melampaui angka 1 juta, tentulah sisa 2.5 juta pada semester kedua yang lebih dari separuhnya merupakan “high season” bahkan “peak season” bukanlah hal yang sulit.

Tentunya Pak Wagub sebagai representasi Pemerintah Daerah NTB juga ingin perkembangan pariwisata di kawasan ini lebih merata karena saat ini masih sangat terkonsentrasi di Lombok. Meskipun demikian arah pembangunan pariwisata Lombok dikatakan sudah berada di jalur yang tepat. Selain dibuktikan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, pengaruh positif dari perkembangan pariwisata ini terhadap kesejahteraan masyarakat juga mulai nampak, terutama untuk pelaku UMKM. Menyadari pentingnya peningkatan kualitas baik dari sisi produk maupun layanan yang diberikan para pelaku UMKM kepada para konsumennya, apalagi mereka yang bergerak di sektor pariwisata juga banyak bersentuhan dengan wisatawan asing, Pak Wagub menyambut baik diperkenalkannya teknologi pembayaran non-tunai khususnya bagi UMKM di NTB.

“Aplikasi teknologi seperti ini sangat penting bagi para pelaku UMKM terutama yang bergerak di sektor pariwisata karena banyak wisatawan akan mendapatkan kemudahan saat bertransaksi”, ungkap Pak Wagub dalam sambutannya. Pag Wagub melanjutkan bahwa pertumbuhan pariwisata di wilahanya tentunya juga akan berjalan beriringan dengan pertumbuhan di sektor perbankan dimana semakin banyak bank membuka cabang di NTB. Di satu sisi tumbuhnya industri perbangkan di NTB memberikan akses permodalan yang lebih baik bagi para pelaku usaha. Sementara di sisi lain kemudahan transaksi juga semakin baik, untuk pelaku usaha maupun untuk konsumen yang dilayaninya.

Untuk saat ini adaptasi teknologi pembayaran non-tunai memang masih terbatas, jangankan di NTB, di kota besar seperti Jakarta maupun di kawasan wisata yang lebih populer seperti Bali pun penggunaan transaksi non tunai masih sangat terbatas. Meskipun demikian karena tingkat kemudahan dan keamanannya, di masa depan penggunaanya akan semakin meluas. Wisatawan tidak lagi harus direpotkan dengan membawa uang dalam jumlah besar, belum lagi wisatawan asing harus menukarkannya terlebih dahulu menjadi rupiah.