Wisata Kuliner

Home/Wisata Kuliner

2 Sambal Pelengkap Kuliner Khas Bali

Kuliner khas Bali memiliki keunikan tersendiri. Tapi budaya yang tumbuh dari akar yang sama pastinya membuat kesamaanya juga banyak kalau dibandingkan dengan kekayaan kuliner khas wilayah lain di tanah air. Apalagi daerah-daerah yang berdekatan seperti Jawa dan Lombok yang mengapit Bali masing-masing di sisi barat dan timur. Sambal merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi kuliner tanah air, sepertinya di semua daerah. Demikian juga dengan Bali, sambal merupakan bagian yang tidak bisa dipisakan dari kekayaan kuliner khas Bali.

Kalau sudah bicara sambal dalam tataran kuliner khas Bali, tidak bisa dibantah, sambal matah merupakan sambal khas Bali yang paling populer. Kunjungan wisata ke Bali tidak lengkap tanpa menikmati panorama sunset sambil memanjakan lidah dengan sajian aneka seafood bakar di Pantai Jimbaran. Ada puluhan bahkan mungkin lebih restoran dan warung yang menawarkan sajian seafood bakar di sepanjang tepian pasir putih Pantai Jimbaran. Bisa dipastikan ke pintu manapun anda masuk, menu apapun yang anda pilih, sambal matah khas Bali pasti tersedia sebagai pelengkap.

Tapi sebetulnya sambal matah tidak melenggang sendirian. Kekayaan kuliner khas Bali di sektor persambalan masih mempunyai sejumlah pemain lain. Berikut ada 2 sambal khas Bali lain yang tidak kalah mengundang selera dan karenanya harus dicoba saat berlibur ke Bali lagi.

Sambal Bongkot

Sambal Bongkot Khas Bali

Sesuai namanya, bahan utama dari sambal ini adalah “bongkot”. Tahu artinya bongkot? Dalam Bahasa Indonesia, bahan masakan yang satu ini kita kenal sebagai kecombrang. Kalau masih belum tahu juga, bisa lihat penjelasan mengenai apa itu kecombrang alias bongkot di situs Wikipedia. Keistimewaan dari kecombrang ini adalah wanginya yang khas dan sangat kuat hampir di semua bagian, batang, daun, bunga, bahkan buahnya. Untuk sambal bongkot khas Bali, yang diambil adalah bunganya.

Bunga kecombrang yang dipakai untuk membuat sambal bongkot khas Bali dipilih yang masih kuncup. Diiris kasar lalu dicampur dengan beberapa bumbu lain seperti garam, terasi, dan pastinya cabe, karena dalam khazanah kuliner Indonesia sambal memang harus pedas. Seperti sambal matah, kebanyakan sambal khas Bali memang tidak dihaluskan tetapi hanya diiris kasar kemudian “dibejek-bejek” sampai agak layu sehingga bumbunya meresap ke bahan utama. Kombinasi aroma yang sama-sama kuat antara bongkot dan terasi membuat sambal khas Bali yang satu ini sanggup membangkitkan selera.

Sambal Mbe

Meskipun namanya “mbe”, tidak ada hubungannya dengan kambing. Dalam Bahasa Bali, mbe artinya bawang merah. Jadi sambal mbe itu kurang lebih artinya sambal bawang.

Sambal Mbe Kuliner Khas BaliSesuai dengan namanya, bawang menjadi bahan utama sambal khas Bali yang rasanya cenderung manis ini, tentunya selain pedas. Menemani bawang merah, ditambahkan juga “suna” alias bawang putih. Kedua jenis bawang ini digoreng, ditambahi lagi cabe merah dan cabe rawit yang berwarna merah. Pakemnya tetap, sambal memang harus pedas. Selain rasa pedas, warna merah cabe menjadi aksen tersendiri yang membuat sambal ini lebih menggugah selera. Garam dan terasi pastinya tidak ketinggalan. Rasa manis biasanya datang dari bawangnya yang memang cenderung memiliki sedikit rasa manis. Ada juga yang memperkuat rasa manisnya dengan menambahkan sedikit gula.

Meskipun sama-sama sambal, karakter sambal mbe ini sangat berbeda. Sambal mbe cenderung lembut karena bahan utama yang berkarakter kuat, bawang, terasa sangat dominan terutama dari segi aroma dan rasa. Terasi hanya terasa keberadaannya sebagai pelengkap. Mungkin karena sambal mbe disajikan matang. Sementara sambal bongkot karakternya lebih “nendang”. Selain bongkot memang wanginya lebih kuat dari bawang goreng, karena disajikan mentah, aroma terasinya juga sangat terasa.

Ada Dimana?

Nah ini pertanyaan yang agak sulit dijawab. Tidak seperti sambal matah yang disajikan hampir di semua restoran dan warung yang menyajikan kuliner khas Bali, sambal mbe dan sambal bongkot jarang disajikan. Biasanya adanya di meja makan rumah-rumah penduduk asli Bali.

Kalau mau mencicipi, mau membeli sambal mbe atau sambal bongkot, kotak aja admin Trava.ID lewat Facebook, nanti bisa dibantu. Hehehe.

Pie Kacang Bali

Pia kacang Bali mungkin masih agak asing di kebanyakan telinga. Selama ini yang populer sebagai oleh-oleh Bali adalah pia dan pai susu. Saking populernya, toko pia dan pai susu yang paling populer dan dipercayai banyak orang sebagai yang terenak selalu ramai pengunjung. Karena banyak yang meyakini sebagai pia paling enak di Bali, antrian panjang mengular setiap hari nampak di depan toko Pia Legong yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari Bandara. Sementara toko Pie Susu Asli Enaaak tidak kalah ramainya meskipun lokasi tokonya berada di tengah Kota Denpasar, jauh dari pusat-pusat konsentrasi wisatawan seperti Kuta dan Sanur, apalagi dari Bandara. Mereka yang ingin pulang dengan membawa banyak biasanya memesan jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan sebelum berangkat ke Bali.

Kemasan Pie Kacang Bali

Meskipun namanya mirip, ada perbedaan mencolok antara pia dan pie susu. Mungkin itu alasannya banyak wisatawan membeli keduanya. Tapi persamaannya juga ada, rasa manisnya relatif kuat. Nah untuk mereka yang menginginkan rasa manis yang lebih “netral”, ada pilihan baru yang belum sepopuler pia atau pie susu, yaitu pie kacang Bali. Sesuai dengan namanya, yang membedakan pie kacang dengan pia atau pai susu adalah bahannya. Kacang menjadi bahan utama adonan pie kacang Bali. Bukan kacang tanah, tapi kacang mete. Dominasi kacang pada adonan ini membuat rasa kacang sangat dominan. Selain mempengaruhi rasa, kacang juga mempengaruhi teksturnya, membuat kue ini terasa sangat renyah. Mungkin itu yang membuat pie kacang dibungkus plastik satu per satu sebelum dimasukkan ke dalam kotak kemasannya.

Kalau pia diberi isian dan pie susu dibentuk seperti piring kecil dengan karamel susu di atasnya, pie kacang ini lebih mirip biskuit, tidak ada isinya. Keistimewaan rasanya justru terletak pada adonan yang setelah dipanggang menjadi sangat renyah. Kalaupun ada, hanya sepotong kacang yang diletakkan di atasnya. Entah sebagai hiasan, pemberi tambahan rasa, atau sekedar menegaskan identitasnya sebagai kue dengan rasa kacang. Sementara yang membedakannya dari biskuit, selain rasa dan teksturnya, juga karena bentuknya yang nampak seperti kue buatan tangan, bentuknya sedikit tidak beraturan demikian juga tingkat kematangan yang mempengaruhi warnanya. Beda dengan biskuit buatan pabrik yang cenderung persis semua karena memang dicetak dan diproduksi dengan mesin secara otomatis.

Pie Kacang Merk Lezaat!!!Meskipun belum terlalu populer, pilihannya sudah cukup banyak. Ada sejumlah merk yang meramaikan pasar pia kacang Bali, diantaranya Jepun, Kinanti, Valentine, Manggala, dan beberapa lagi lainnya. Hanya saja tidak seperti pia dan pai susu yang biasanya dijual di gerai masing-masing merk, pia kacang lebih banyak dijual di toko-toko oleh-oleh Bali. Bahkan pie kacang Bali bermerk Lezaat!!! yang menjadi sample tulisan inipun dibeli di gerai utama Pie Susu Asli Enaaak yang terletak di Jalan Nangka, di kawasan kota tua Denpasar. Sanyang belum sempat membandingkan dengan merk-merk lain jadi tidak bisa memberikan testimoni apakah pie kacang yang satu ini lebih enak dari merk-merk lain. Tapi yang jelas, icip-icip pie kacang Bali merk Lezaat!!! ini benar-benar tidak mengecewakan.

Soal harga, nah ini mungkin yang juga tidak kalah penting selain rasa. Pie kacang Bali ini harganya relatif murah dibandingkan pia atau pai susu. Berbagai merk harganya tidak terlalu berbeda, sekotak dijual di kisaran 20 ribuan saja. Bisa dibandingkan dengan pia dan pai susu kan. Jadi lain kali berlibur di Bali, coba pie kacang sebagai oleh-oleh. Selaintidak kalah enak, harganya lebih murah, juga lebih unik karena belum sepopuler pia dan pai susu. Selamat berlibur, selamat berbelanja!

Gula Bali The Joglo

Kalau di kalangan masyarakat Sunda kita mengenal lotek atau dalam khasanah kuliner Betawi ada ketoprak, masyarakat Bali punya tipat santok. Seperti lotek dan ketoprak, biasanya tipat santok dijual secara sederhana. Di warung kecil, di lapak pedagang pasar, di emperan kaki lima, didorong keliling dengan gerobak, bahkan hanya di atas meja yang diletakkan di depan rumah pedagangnya. Gula Bali The Joglo membawa kuliner khas masyarakat Bali ini ke tingkat yang berbeda dengan menyajikannya di restoran yang resik dan nyaman.

tipat-santok-gula-bali-sunset-road-1280-80  tipat-plecing-gula-bali-sunset-road-1280-80  rujak-gula-bali-sunset-road-1280-80

Tentunya sajiannya tidak hanya tipat santok saja tetapi juga menu-menu sejenis yang beberapa diantaranya merupakan menu khas wilayah-wilayah tertentu di Bali seperti misalnya serombotan yang merupakan kuliner Bali dari kawasan Klungkung. Ada juga tipat plecing yang super pedas dan aneka rujak. Ada bermacam-macam jenis rujak yang bisa dipilih, diantaranya rujak gula, rujak kacang, rujak serut, dan lainnya. Tidak ketinggalan sajian rujak yang sangat khas Bali dan tidak semua orang bisa menikmatinya, rujak kuah pindang.

Ada juga sajian manis jajan pasar khas bali yang disajikan dengan parutan kelapa dan lelehan gula merah. Pilihan menu manis lain terdapat juga beberapa jenis bubur dan kolak. Benar, ternyata kolak yang di tempat-tempat lain di tanah air melonjak popularitasnya selama Bulan Suci Ramadhan ini juga merupakan bagian dari kekayaan kuliner Bali. Sementara untuk minuman, yang khas ada dawet dan cincau hijau yang dalam Bahasa Bali dikenal dengan nama daluman. Sebagai penyerta, ada juga pilihan minuman yang lebih ringan seperti teh, kopi, jus, dan beberapa jenis soft drink populer.

bubur-campur-gula-bali-sunset-road-1280-80  es-dawet-gula-bali-sunset-road-1280-80  es-daluman-gula-bali-sunset-road-1280-80

Meskipun disajikan dalam suasana restoran yang nyaman dan berada di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau, harga dari menu yang disajikan Gula Bali The Joglo masih mewakili keberadaan tipat santok dan kawan-kawan sebagai sajian merakyat. Rata-rata harganya di kisaran sepuluh ribuan, kurang-kurang dikit, lebih-lebih dikit, tapi yang jelas tidak akan menguras isi dompet. Sementara ukuran menunya relatif kecil. Untuk rata-rata perut, satu sajian saja tidak akan membuat perut kenyang. Ada bagusnya, dengan begitu kita bisa mencicipi beberapa jenis sajian tanpa harus kekenyangan dan ujung-ujungnya merasa berdosa terhadap berat badan.

Yang harus dicatat adalah bahwa kuliner Bali yang otentik memang cenderung pedas. Jadi bersiap-siaplah dengan mulut terbakar. Kalau tidak begitu cocok dengan makanan yang terlalu pedas, jangan lupa berikan catatan khusus pada saat memesan. Kadang-kadang pelayan bertanya mengenai tingkat kepedasan yang diinginkan. Tetapi karena by-default memang pedas, sering kali pertanyaan tersebut terlewatkan. Jadi sekali lagi, kalau mulut atau perut anda tidak tahan pedas, berikan catatan khusus pada saat memesan.

interior-gula-bali-sunset-road-1280-80  taman-luar-gula-bali-sunset-road-1280-80  gerbang-luar-gula-bali-sunset-road-1280-80

Di Bali pedagang yang menjual tipat santok, rujak, serombotan, dan kawan-kawannya seperti yang disajikan Gula Bali The Joglo sangat banyak. Bisa ditemukan di mana-mana. Di dalam gang-gang sempit kawasan perkotaan yang padat di tengah Kota Denpasar, sampai di desa terpencil yang antar rumah tidak bisa saling melihat karena jaraknya berjauhan sekalipun bisa dengan mudah ditemukan. Meskipun begitu biasanya memang pedagangnya terpisah-pisah. Misalnya saja pedagang serombotan ya hanya menjual serombotan saja.

Tapi soal rasa memang Gula Bali The Joglo termasuk diantara sedikit yang paling top. Jadi untuk wisatawan yang baru pertama kali mencicipi makanan-makanan ini, ada baiknya langsung mencicipinya di tempat ini, supaya tidak terlanjur menempel kesan kalau rasanya kurang nendang.

Selain soal rasa, suasana Gula Bali The Joglo sangat nyaman. Jangankan dibandingkan dengan tempat berjualan tipat santok dan kawan-kawan pada umumnya, dibandingkan dengan restoran lainpun tempat ini termasuk yang sangat nyaman. Ciri khas yang dipertahankannya adalah rumah kuno khas Jawa, yang tentunya sesuai dengan namanya, Joglo. Dindingnya yang terbuka dan langit-langitnya yang tinggi membuat udara bersirkulasi dengan baik, sehingga sejuk meskipun tanpa pendingin ruangan.

Alih-alih menghadap jalan, bangunan joglo ini berdiri menghadap taman yang cukup luas dan ditata asri, bukan hanya dengan rumput dan tanaman-tanaman kecil tapi juga ada pohon-pohon besar yang membawa suasana teduh dan udara sejuk. Memisahkannya dengan jalan raya sehingga pengunjung tidak terganggu suara dan pemandangannya oleh lalu-lintas, ada pagar tinggi yang membatasi taman dan jalan raya.

Gula Bali The Joglo ada di dua lokasi. Di dalam Kota Denpasar, restoran ini berada di Jalan Merdeka, di sisi timur kawasan Renon yang merupakan kawasan pemukiman elite yang mengelilingi pusat perkantoran Pemerintah Propinsi Bali. Untuk wisatawan yang umumnya lebih memilih kawasan seputaran Kuta untuk menginap, restoran ini juga ada di seputaran Sunset Road, uniknya nama jalannya sama-sama Jalan Merdeka. Tepatnya di belakang Lippo Mall di dekat bundaran patung Dewa Ruci yang dikenal dengan sebutan simpang siur.

Memilih outlet di Renon atau di Kuta, menu yang ditawarkan sama, kenyamanan suasana bahkan gaya arsitekturnya sama, kualitas pelayanan sama, rasa kurang lebih sama, harga pastinya juga tidak ada perbedaan. Jadi tergantung anda lebih dekat ke outlet yang mana.

Kalau mau dicari kelemahannya, sepertinya kelemahan Gula Bali The Joglo adalah jam bukanya yang terbatas. Jam 5 sore sudah tutup. Jadi restoran ini hanya melayani tamu di seputaran jam makan siang atau bersantai di sore hari. Mungkin agak sulit untuk wisatawan yang biasanya menghabiskan waktu di siang hari untuk menjelajah dan baru kembali ke seputaran Denpasar atau Kuta menjelang malam untuk beristirahat di penginapan masing-masing.

Ayam Betutu Ibu Lina: Referensi Baru Ayam Betutu Gilimanuk

Ayam betutu Gilimanuk merupakan pilihan kuliner Bali yang tidak membuat wisatawan domestik beragama Islam menjadi ragu-ragu. Ayam Betutu Ibu Lina hadir sebagai alternatif, bahkan sudah menjadi referensi baru, di samping Ayam Betutu Men Tempeh yang sudah lebih dahulu populer. Seperti banyak wilayah lainnya di tanah air, Bali juga memiliki kekayaan tradisi kuliner yang luar biasa. Sayangnya karena mayoritas penduduk Bali menganut agama Hindu yang mengijinkan umatnya untuk mengkonsumsi babi, banyak wisatawan yang datang dari wilayah lain di Indonesia yang mayoritas beragama Islam menjadi ragu-ragu. Banyak wisatawan domestik pemeluk agama Islam mengkhawatirkan kehalalan sajian khas Bali.

Ayam betutu Gilimanuk merupakan pilihan “aman” untuk menikmati dahsyatnya kekayaan kuliner tradisional Bali terutama bagi mereka yang menghindari kandungan Babi.

Sayangnya kalau kita bicara ayam betutu, sepertinya memang harus datang langsung ke tempatnya. Di Denpasar dan kawasan-kawasan wisata populer seperti Kuta misalnya, ada banyak warung dan restoran yang menawarkan menu ayam betutu Gilimanuk. Sejumlah restoran papan atas termasuk yang berada di hotel-hotel berbintang juga banyak yang memiliki sajian yang satu ini di dalam menunya. Bahkan di kota besar lain di luar Bali, seperti Jakarta, meskipun tidak semudah mencari rumah makan Padang, ayam betutu Gilimanuk bisa didapatkan. Tapi soal rasa itu soal lain. Orang bisa saja berargumen, bisa saja menganggap kalau itu hanya sugesti semata. Tapi mereka yang sudah membuktikannya, datang langsung ke Gilimanuk untuk menikmati sajian ayam betutu Gilimanuk di tempat asalnya, biasanya tidak lagi bisa membantah dan berargumen. Ayam betutu Gilimanuk di Gilimanuk memang lebih enak.

Ayam Betutu Men Tempeh

Apakah ayam betutu Gilimanuk ini merupakan sajian tradisional yang benar-benar berasal dari kekayaan tradisi kuliner setempat? Bisa jadi tidak. Konon kuliner Bali yang kemudian lengket dengan nama pelabuhan penyeberangan di ujung barat Pulau Bali ini dibuat oleh Ni Wayan Tempeh asal Gianyar yang bersuamikan seorang pria asal Bangli. Baik Gianyar maupun Bangli relatif jauh dari Gilimanuk, dalam kondisi normal perlu waktu setidaknya 4 jam. Mungkin karena keduanya sejak tahun 1976 sudah menjajakan masakannya ini di warungnya yang berada di kawasan Gilimanuk, kemudian ayam betutu buatan Men Tempeh ini kemudian populer dengan sebutan ayam betutu Gilimanuk.

Ayam Betutu Men Tempeh hanya ada satu-satunya. Itulah yang membuatnya menjadi referensi. Jangankan wisatawan, masyarakat Bali yang tinggal di kawasan lain, kalau kebetulan melakukan perjalanan ke arah barat, entah ke Gilimanuk atau seputaran Kabupaten Jembrana, biasanya menjadikan Ayam Betutu Men Tempeh sebagai buah tangan untuk dibawa pulang. Ada pula warung dan restoran penjual ayam betutu khas Gilimanuk ini yang konon digawangi oleh bekas pegawai Men Tempeh, bahkan ada yang menggunakan nama yang sama. Tapi tetap saja, bagi mereka yang tahu, kelezatan ayam betutu Men Tempeh yang asli tetap juara.

Tetapi sekarang ada sajian betutu yang menurut banyak orang lebih enak dari Ayam Betutu Men Tempeh, namanya Ayam Betutu Ibu Lina, sama-sama di Gilimanuk.

Ayam Betutu Ibu Lina

Banyak yang mengatakan bahwa Ayam Betutu Ibu Lina ini juga digawangi oleh mantan pegawai Men Tempeh, bahkan ada yang menyebut masih memiliki ikatan kekerabatan. Entah benar entah tidak, tetapi secara logis setidaknya mereka yang membuka warung atau restoran ayam betutu Gilimanuk pastinya menggunakan Ayam Betutu Men Tempeh sebagai acuan. Tapi terlepas dari persoalan tersebut, memang sepertinya Ibu Lina yang pastinya tidak ada hubungannya dengan Pak Mario ini bukan menjiplak tetapi berhasil memodifikasi sajian ayam betutu Gilimanuk menjadi lebih kaya rasa. Soal ini “kata orang” hanya kami jadikan sebagai referensi karena untuk membuktikannya kami sengaja mencicipinya sendiri. Sudah demikian lama berdiri sehingga sudah sering kali kami cicipi, rasa Ayam Betutu Men Tempeh rasanya bukan hanya sudah nempel di lidah tetapi sudah tersimpan di dalam kepala. Semua kru Trava.ID sepakat bahwa Ayam Betutu Ibu Lina lebih dahsyat dari pendahulunya.

Untuk wisatawan pemeluk Agama Islam, Ayam Betutu Ibu Lina kehalalannya dijamin melalui sertifikat resmi yang diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

sambal-ayam-betutu-ibu-lina-gilimanuk-850-80

Sesuai dengan namanya, rumah makan Ayam Betutu Ibu Lina tidak menawarkan sajian lain selain ayam betutu. Bisa dibeli per ekor atau per potong. Ayamnya sendiri tidak nampak banyak bumbunya. Berwarna kuning agak pucat dengan sedikit kuah bening berwarna kekuningan, selintas nampak seperti “ayam pop” yang bisa kita temukan di beberapa restoran Padang. Tapi seperti ayam pop, ayam betutu ini sangat kaya rasa. Sepertinya bumbu memang tidak menempel di luar tapi meresap ke dalam daging. Tentunya kelezatannya berlipat saat menyantapnya bersama sambal yang ternyata merupakan bumbu yang dimasak bersama ayamnya tetapi memang sengaja dibiarkan terpisah. Untuk menemaninya, ada sajian sayur yang juga sangat sederkana tapi luar biasa mengundang selera. Sayurnya cenderung tawar dan sedikit pahit, sepertinya hanya direbus saja. Tapi sambal yang dituangkan di atasnya membuat sayur ini tidak kalah gurih dan lezat dibanding sajian ayamnya itu sendiri. Makan sayurnya ini saja mungkin bisa membuat kita menghabiskan berpiring-piring nasi. Pastinya apalagi kalau dengan ayamnya.

Ayam Betutu Goreng

Tidak semua menyukai sajian ayam yang berkuah. Mungkin hal ini sangat disadari oleh Bu Lina. Bagi mereka yang lebih menyukai sajian ayam yang tidak lembab apalagi berkuah, ada ayam betutu goreng. Bukan modifikasi luar biasa. Hanya menggoreng sebentar ayam betutu original sehingga membuatnya lebih kering. Tidak lagi berkuah, bagian luarnya sedikit kering tergoreng, tapi di dalamnya tetap lembut dan lembab. Tapi bukan hanya soal hilangnya kuah, sepertinya menggoreng membuat rasa juga sedikit berubah, agak berbeda dari yang original. Lebih enak atau sebaliknya, tentu soal selera. Mereka yang lebih menyukai ayam betutu Goreng mengatakan selain lebih sesuai dengan seleranya yang tidak menyukai sajian ayam berkuah, rasanya lebih tajam.

Ayam Betutu Goreng

Lalu bagaimana dengan anda? Lebih suka ayam betutu original atau ayam betutu goreng? Kalau anda tidak suka sajian ayam yang berkuah, tentu pilihan ayam betutu goreng akan memanjakan anda. Tapi kalau sajian ayam yang sedikit berkuah tidak merupakan masalah bagi anda, sebaiknya coba dua-duanya sebelum memutuskan.

Sebagai bandingan saja, saya baru bisa menerima sajian ayam yang sedikit berkuah setelah mencicipi ayam betutu Gilimanuk.

Lokasi Ayam Betutu Ibu Lina

lokasi-ayam-betutu-ibu-lina-gilimanuk-850-80

Lokasi rumah makan Ayam Betutu Ibu Lina berada di pintu keluar terminal angkutan penumpang Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk. Terminal angkutan penumpang maksudnya terminal mobil dan bis, bukan terminal kapal ferry. Terminal ini lokasinya berada di luar kawasan pelabuhan. Kalau dari arah Denpasar, sesaat sebelum memasuki gerbang pelabuhan ada jalan kecil ke kanan. Ada plang yang menunjukkan bahwa jalan itu menuju ke terminal. Ketika memasuki terminal, ada dua rumah makan ayam betutu. Di sisi kiri Ayam Betutu Men Tempeh yang konon palsu. Di sisi depan, di depan kita saat memasuki kawasan terminal, ada Ayam Betutu Men Tempeh yang asli. Untuk menemukan rumah makan Ayam Betutu Ibu Lina, keluarlah dari kawasan terminal melalui gerbang di sisi kanan. Begitu keluar gerbang, belok kiri. Hanya beberapa puluh meter saja dari gerbang itu, anda akan menemukan Ayam Betutu Ibu Lina di sisi kanan jalan.

warung-ayam-betutu-ibu-lina-gilimanuk-850-80

 

 

Memanjakan Lidah dan Mata di Warung Janggar Ulam

Makan saat berlibur sudah bukan sekedar ritual mengisi perut kosong saja, tapi sudah menjadi bagian dari aktivitas wisata itu sendiri. Memanjakan jiwa dengan melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari, memanjakan mata dengan menikmati pemandangan indah, tidak lengkap tanpa memanjakan lidah dengan wisata kuliner. Saat berlibur di Bali, mencari makan hanya untuk sekedar mengisi perut bukan perkara sulit. Mencari makan enak yang sanggup memanjakan lidah juga ada sangat banyak pilihan selama kita tidak ragu-ragu untuk merogoh saku dalam-dalam. Tapi kalau kita ingin perut kenyang, lidah bergoyang, dan kantong tetap riang, tentu ceritanya bisa sangat berbeda. Warung Janggar Ulam memenuhi ketiga kriteria tersebut dengan bonus yang membuat pengalaman wisata kuliner Bali menjadi lebih memuaskan, yaitu pemandangan yang indah dan pelayanan yang ramah. Bintang 5 lah sudah … Ha ha ha.

Meskipun namanya warung, tapi baik suasana maupun kualitas makanan dan penyajian di Warung Janggar Ulam ini berkelas restoran, tidak kalah dibandingkan dengan beberapa restoran di Ubud sejenis yang mungkin lebih populer, sebut saja misalnya Bebek Bengil yang sama-sama berada di seputaran Monkey Forest atau mungkin Bebek Tepi Sawah yang bukan hanya sama-sama berada di Ubud tetapi berada di ruas jalan yang sama. Dibandingkan dengan restoran-restoran lain yang sejenis, setelah beberapa kali mampir, kru Trava.ID sepakat kalau Warung Janggar Ulam memiliki setidaknya 3 kelebihan: makanannya lebih enak, harganya lebih murah, suasananya lebih nyaman.

kuliner-ruang-besar-restoran-warung-janggar-ulam-ubud-bali-850-80

Suasana Khas Ubud di Warung Janggar Ulam

Warung Janggar Ulam menawarkan suasana sangat nyaman dalam paduan gaya arsitektur klasik Jawa dan Bali yang sangat kental. Memasuki lapangan parkir kita akan disambut pura kecil yang dibangun dari bata merah yang sangat artistik, sementara memisahkan lapangan parkir dan bagian dalam restoran terdapat gerbang dengan gaya yang sama. Memasuki gerbang dalam kita akan disambut panorama sawah yang luas menghampar sampai ke cakrawala, lengkap dengan ornamen-ornamen khas Bali seperti tempat bersembahyang. Kita bisa memilih untuk duduk di bangunan utama, wantilan besar yang berdiri di tengah kolam, atau salah satu gubuk yang berjejer di tepi kolam. Semua bangunannya terbuka, membuat kita bisa dengan leluasa menikmati panoramanya yang indah dan anginnya yang sejuk. Dari bangunan-bangunannya yang didominasi kayu tua ini nampak jelas bahwa bangunan-bangunan ini sudah sangat tua dan sengaja didatangkan dari desa-desa di Pulau Jawa. Sementara itu furnitur dan dekorasinya juga ditata sesuai dengan bagunannya, bentuk-bentuk sederhana dengan bahan kayu yang jelas menampakkan usia tuanya.

Kawasan restoran yang memanjang di sepanjang tepi sawah membuat pemandangan indah ini dapat dinikmati dengan leluasa dari semua meja, sementara memisahkan antara kawasan restoran dan pesawahan di depannya ada saluran air yang dalam istilah Bali dikenal sebagai “linjingan”. Air di linjingan ini sangat jernih. Sambil menunggu pesanan makanan dan minuman siap disajikan, banyak pengunjung melintasi linjingan ini untuk berjalan-jalan di pematang sawah. Susasananya berubah-ubah sepanjang tahun sesuai dengan siklus padi, sehingga kalau kita datang lagi ke tempat ini di waktu yang berbeda, kemungkinan besara kita akan mendapati suasana yang berbeda pula. Coklat tanah saat sawah mulai diolah, pantulan langit di air jernih saat padi mulai ditanam, hijau subur saat padi mulai tumbuh, atau kuning keemasan saat masa panen menjelang. Selain panorama, pastinya kita juga bisa melihat para petani yang mengolah sawahnya dengan cara yang masih sangat tradisional. Kita bahkan dapat berinteraksi dengan mereka, karena seperti umumnya masyarakat Bali, para petani ini juga sangat ramah, tidak akan menampakkan reaksi seperti merasa terganggu meskipun kita mengajak mereka mengobrol saat mereka sedang sibuk bekerja.

kuliner-sawah-restoran-warung-janggar-ulam-ubud-bali-850-80

Kalau seputaran Kuta – Legian – Seminyak dipenuhi restoran-restoran yang cenderung mainstream dengan menu-menu yang kebanyakan bergaya internasional, restoran di Ubud yang dikenal sebagai pusat tradisi budaya Bali lebih banyak mengedepankan keagungan warisan tradisi Bali dalam hal kuliner. Bahkan restoran-restoran di hotel-hotel berbintang sekalipun, di Ubud lebih banyak menawarkan menu-menu tradisional seperti bebek betutu atau sayur urap.

Menu Warung Janggar Ulam

Warung Janggar Ulam bukan pengecualian. Tetapi masakan yang disajikan di Warung Janggar Ulam bukan menu-menu otentik Bali seperti ayam betutu atau sate lilit misalnya. Warung Janggar Ulam menawarkan menu-menu “mainstream” yang bisa dengan mudah kita temukan dimana saja, di hampir semua tempat bukan hanya di Indonesia tapi mungkin juga di banyak belahan dunia. ayam, bebek, ikan air tawar, dan seafood yang digoreng atau dibakar bisa kita temukan di banyak tempat lainnya. Restoran kecil di ruko di depan kompleks perumahan tempat kita tinggal, restoran di lantai bawah apartemen tempat kita tinggal, warung di belakang kantor tempat kita bekerja, sampai gerai-gerai foodcourt di mal tempat kita biasa berbelanja di akhir pekan, pasti banyak menawarkan menu seperti itu. Yang membuat Warung Janggar Ulam berbeda sehingga membuatnya layak untuk dikunjungi, bahkan berulang kali, adalah keberhasilannya memadukan bahan-bahan tersebut dengan tradisi memasak ala Bali yang meskipun tetap mengutamakan kesegaran tetapi sangat kaya rasa.

Mereka yang sering berlibur di Bali dan banyak mencicipi kuliner khas Bali tentu tau ciri khas masakan otentik Bali. Tidak lembut tapi nendang di mulut. Kekuatan rasa itulah yang bisa kita dapatkan dalam dari setiap piring menu yang disajikan di Warung Janggar Ulam.

Lokasi Warung Janggar Ulam

Warung Janggar Ulam tidak berada di pusat kota Ubud tetapi di kawasan pinggiran di sisi timur, tepatnya di kawasan Goa Gajah. Dari pasar seni dan Puri Ubud, arahkan kendaraan ke timur menuju Tegallalang. Saat mencapai bundaran dengan patung Arjuna besar di tengahnya, belok kanan. Setelah melalui Puri Peliatan, jalan utama akan berbelok ke arah kiri, ikuti terus. Kemudian kita akan bertemu dengan pesimpangan ke arah kanan dengan patung kecil di tengahnya, lurus terus dan kita sudah memasuki Jalan Goa Gajah. Tidak jauh dari persimpangan itu, Warung Janggar Ulam berada di sisi kanan jalan. Pasang mata karena restorannya tidak berdiri persis di tepi jalan tetapi agak masuk, sementara plang yang berdiri di pinggir jalan juga tidak terlalu besar. Di Ubud pilihan restorang memang banyak, sangat banyak bahkan. Tapi di sepanjang Jalan Goa Gajah ini hanya ada 3 restoran yang cukup populer. Selain Warung Janggar Ulam, ada Bebek Tepi Sawah dan Bale Udang Mang Engking.

kuliner-gerbang-restoran-warung-janggar-ulam-ubud-bali-850-80

Kalau sudah mendekati waktu makan dan tidak mampir di restoran di Ubud sementara perjalanan masih jauh, misalnya menuju ke Tampak Siring atau Kintamani, lebih baik mampir makan di salah satu restoran di kawasan Goa Gajah ini, karena setelah itu tidak banyak lagi pilihan yang oke punya. Di sepanjang Jalan Goa Gajah ini, tepatnya sebelum tempat wisata sejarah Pura Goa Gajah terdapat tiga restoran yang bisa dijadikan referensi. Selain Warung Janggar Ulam, ada Bebek Tepi Sawah dan Bale Udang Mang Engking. Selepas Pura Goa Gajah, memasuki kawasan Pejeng dan Tampaksiring, pilihan sudah tidak ada lagi. Baru ada banyak restoran lagi di Penelokan yang berada di Kawasan Wisata Kintamani. Tapi restoran-restoran di Kintamani umumnya hanya memiliki panorama yang luar biasa indah, tapi rasa makanannya biasa saja, harganya luar biasa, dan sementara kualitas pelayanannya banyak sekali dikeluhkan.

Untuk informasi lebih lengkap termasuk menu dan harganya, silangkan kunjungi langsung website Warung Janggar Ulam disini www.warungjanggarulam.com

Dalam kunjungan terakhir ke Warung Janggar Ulam, ini menu yang kami cicipi.

Ikan Laut Goreng

kuliner-ikan-goreng-restoran-warung-janggar-ulam-ubud-bali-850-80

Keistimewaan ikan laut goreng ini sepertinya berawal dari kesegaran ikannya itu sendiri, padahal Ubud relatif jauh dari pantai. Dari aneka jenis ikan laut, kami memilih kakap. Tingkat kematangannya luar biasa, sepertinya bukan hanya soal berapa lama digoreng tetapi chef-nya tahu persis suhu minyak yang pas. Hasil gorengannya benar-benar sempurna, coklat dan renyah di luar tetapi lembut dan lembab di dalam. Sementara bumbunya sepertinya sengaja dibuat hanya untuk menghilangkan bau amis khas ikan laut dan memberi sedikit rasa asin, sehingga saat dicicipi yang menonjol benar-benar hanya rasa ikan yang gurih. Tendangan bumbu ala Bali baru terasa saat ikan goreng ini dimakan dengan sambal matah yang disajikan sebagai pendamping. Meskipun memberi rasa pedas, sambalnya sendiri tidak membuat mulut kita terbakar, kita bisa dengan leluasa menggunakan indra pengecap di dalam mulut untuk mengeksplorasi aneka rasa rempah di dalam sambal tersebut.

Cumi Bakar

kuliner-cumi-bakar-restoran-warung-janggar-ulam-ubud-bali-850-80

Cumi termasuk hidangan seafood yang agak sulit dimasak dengan pas. Meskipun dibakar merupakan cara memasak paling sederhana yang konon sudah dikenal sejak jaman purba, mendapatkan sajian cumi yang pas tetap sulit. Terlalu mentah pastinya tidak enak dimakan, tetapi terlalu matang juga akan membuatnya menjadi alot. Cumi bakar Warung Jangar Ulam ini lagi-lagi matang sempurna. Meskipun tertutup balutan bumbu, nampak jelas tidak ada bekas-bekas gosong berlebihan di permukaan cuminya, tapi kematangannya sempurna sampai ke dalam, matang sempurna tapi masih sangat lembut. Bumbu BBQ-nya yang sepertinya mengandung gula merah dan minyak kelapa selain rempah-rempah lainnya nyaman di mulut tanpa mengurangi rasa gurih cuminya. Yang satu ini rasanya agak berbeda, enaknya lembut, tidak menendang. Untuk penyuka hidangan cumi dan sering mendapatkan hidangan yang tingkat kematangannya kurang pas, biasanya sih terlalu matang jadi agak alot, cumi bakar Warung Janggar Ulam ini harus dicoba.

Kerang Bakar

kuliner-kerang-bakar-restoran-warung-janggar-ulam-ubud-bali-850-80

Masakan kerang bakar memang selalu unik, karena selalu dibakar dengan cangkang berfungsi sebagai wadah, daging kerang tidak bersentuhan langsung dengan api sehingga tidak ada gosong-gosongnya meskipun terlalu matang. Hanya saja kalau terlalu matang daging kerangnya jadi terlalu kering, sialnya bersama hilangnya kelembaban, rasa gurihnya ikut hilang, alhasil hanya tinggal gumpapan kecil tanpa rasa, yang ada hanya tinggak rasa bumbu tanpa rasa daging kerang yang harusnya luar biasa gurih. Lagi-lagi, bakarannya pas banget, matang sempurna. Masih sangat juicy tapi jelas cukup matang. Meskipun kerang sebetulnya memang biasa dimakan mentah di luar negeri sana, kita orang Indonesia jarang yang “bisa menerima” kerang mentah. Dibakar bersamaan dengan bumbu yang dituangkan ke masing-masing cangkang kerang sehingga bumbu dan daging kerangnya matang bersamaan, rasa bumbu meresap sempurna ke dalam daging kerangnya. Rasanya benar-benar luar biasa. Yang satu ini bukan hanya recommended tapi wajib dicoba.

 

 

Pia Bintang Baturiti

Dulu mereka yang berlibur di Bali biasanya membawa patung atau kipas sebagai oleh-oleh Bali untuk dibawa pulang setelah berlibur. Seniman-seniman Bali memang sangat terkenal dengan kepiawaiannya dalam mengukir, jadi tidak heran kalau hasil karya seni berbentuk ukiran ini menjadi primadona oleh-oleh Bali, entah berbentuk patung atau relief. Bukan hanya kayu yang juga terdiri dari berbagai jenis, kita bahkan juga dapat memilih patung yang terbuat dari batu dan tulang atau tanduk hewan. Sementara itu untuk oleh-oleh dalam bentuk makanan, biasanya salak merupakan pilihan utama. Salak Bali memang sangat terkenal karena rasanya, tidak ada asam dan sepat, manis legit. Apalagi kalau kita memilih jenis salak Bali yang dikenal dengan nama salak gula pasir.

Tapi itu dulu. Sekarang variasi oleh-oleh Bali semakin melebar, meskipun harus diakui banyak diantaranya bukan sesuatu yang secara tradisional merupakan ciri khas Bali, sebagian bahkan tidak diproduksi di Bali. Ada satu jenis makanan yang beberapa tahun terakhir ini sangat populer sebagai oleh-oleh Bali, yaitu pia. Jelas pia bukan berasal dari tradisi kuliner Bali. Menurut situs Wikipedia, kata pia sendiri berasal dari Bahasa Hokkian di Tiongkok sana yang berarti kue. Dalam keterangan di situs tersebut, pia dihubungkan dengan bakpia, sejenis kue yang hampir sama dan terkenal sebagai oleh-oleh Jogja. Karena bagian dari masyarakat kita yang memiliki leluhur yang berasal dari negeri tirai bambu itu menyebar hampir di seluruh pelosok tanah air terutama di kota-kota besar, pastinya pia juga ada dimana-mana. Entah mengapa kemudian panganan yang satu ini menjadi salah satu oleh-oleh Bali yang sangat populer saat ini.

Pia Paling Enak di Bali

Dengan popularitasnya yang demikian tinggi, ada banyak merk pia yang biasanya ditawarkan melalui toko-toko oleh-oleh dan cindera mata di Bali. Toko oleh-oleh Bali biasanya menyediakan pia dengan berbagai merk, tidak hanya satu merk saja. Di satu sisi mungkin terasa seru karena memberi banyak pilihan, tapi di sisi lain justru mungkin membingungkan. Merk mana yang harus dipilih? Suatu kali di salah satu gerai toko oleh-oleh Krisna ada seorang wisatawan yang nampak memborong pia, setiap merk diambilnya satu kotak, katanya mau dibawa ke hotel untuk dicicipi satu per satu supaya tau yang mana yang paling enak, baru nanti sebelum kembali ke kota asalnya dia akan kembali lagi memborong pia paling enak di Bali untuk dibawa sebagai oleh-oleh.

Bicara makanan enak mungkin memang sangat tergantung dengan selera, tapi biasanya namanya selera juga ada pakemnya. Mengesampingan suka atau tidak suka satu dua orang yang mungkin sedikit berbeda, biasanya selera orang relatif sama. Bicara soal pia Bali, sayangnya pia paling enak di Bali biasanya tidak dijajakan di toko-toko atau gerai-gerai oleh-oleh tetapi dijual secara eksklusif melalui tokonya sendiri. Salah satu pia yang sangat terkenal di Bali adalah Pia Legong yang hanya dijual di tokonya yang untungnya lokasinya tidak jauh dari Bandara Ngurah Rai sehingga wisatawan tidak sulit menemukan tempatnya. Saking populernya, kita tidak bisa datang begitu saja untuk membeli, harus memesan jauh-jauh hari sebelumnya. Kebanyakan wisatawan yang ingin membawa Pia Legong sebagai oleh-oleh sepulang berlibur di Bali harus memesannya bahkan sebelum mereka berangkat ke Bali. Mereka yang datang ke tokonya bukan datang untuk membeli tetapi mengambil pesanan, itupun antriannya sudah seperti antrian dapur umum bencana alam, panjang banget.

Demikian membludaknya peminat Pia Legong, sampai-sampai ada banyak orang yang mengais rejeki sebagai calo. Membeli dengan cara memesan tapi setelah pia ada ditangan dijual kembali dengan harga lebih tinggi kepada mereka yang datang tanpa melakukan pemesanan sebelumnya. Tapi apakah Pia Legong benar-benar merupakan pia paling enak di Bali?

Pia Bintang Baturiti

buka-box-pia-bintang-baturiti-850-80

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami kru Trava Wisata Indonesia memiliki pilihan sendiri yang uniknya ini bukan konsensus, bukan musyawarah untuk mufakat, karena kami semua memiliki pendapat yang sama, semua tanpa kecuali. Menurut lidah kami, pia paling enak di Bali adalah Pia Bintang Baturiti. Sesuai dengan namanya, pia ini bisa didapatkan di tokonya yang berada di Baturiti. Baturiti sendiri adalah sebuah kota kecil, ibu kota kecamatan, tidak jauh dari kawasan wisata Bedugul. Tidak dijual di tempat lain kecuali satu gerai yang malah lebih susah ditemukan karena berada di sisi utara Kota Denpasar. Yang paling mudah dan nyaman untuk membeli Pia Bintang Baturiti adalah mampir sekalian berwisata ke Bedugul atau malah mungkin tempat-tempat wisata di Bali Utara seperti Air Terjun Gitgit atau Pantai Lovina. Kalau sengaja pergi ke Baturiti hanya untuk membeli pia rasanya juga agak berlebihan, meskipun mungkin rasanya layak untuk diperjuangkan.

Kalau berniat membeli Pia Bintang Baturiti sambil berwisata ke Bedugul atau Bali Utara, belilah saat berangkat saja, karena saat pulang mungkin sudah terlalu sore. Kalau sudah begini meskipun tokonya masih buka stoknya mungkin sudah tinggal sedikit. Selerti kebanyakan kota kecil, Baturiti juga cepat tidur, saat senja menjelang, toko-toko sudah tutup. Di tokonya sendiri Pia Bintang Baturiti menyediakan 6 pilihan isian. Yang klasik pastinya kacang ijo. Yang populer keju dan coklat. Sementara itu ada juga pilihan rasa yang unik dan justru harus dicoba, kopi, durian, dan wijen. Semua rasa dijual dengan harga yang sama, Rp. 40.000 per kotak yang berisi 10 pia. Di dalam kotak, masing-masing pia dibungkus tersendiri, jadi kalaupun kotaknya sudah dibuka tetapi belum termakan semua, sisanya tetap aman.

lokasi-outlet-pia-bintang-baturiti-850-80Lokasi Pia Bintang Baturiti

Toko Pia Bintang Baturiti berada di Kota Baturiti. Meskipun disebut kota, tapi suasananya masih sangat terasa desa, Kota Baturiti ini merupakan ibu kota Kecamatan Baturiti, kawasan pegunungan yang sejuk dimana mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani sayur mayur dan bunga. Letaknya hanya beberapa kilometer sebelum kawasan wisata Bedugul yang terkenal dengan kebun raya, Pura Ulun Danu beratan yang cantik, dan tiga danaunya yang indah. Sementara letak tokonya sendiri berada di seberang Pasar Baturiti. Cukup besar dengan merk yang besar pula, jadi mudah ditemukan. Kalau anda berkendara dari arah Denpasar, letak tokonya berada di sisi kanan jalan. Selain menjual Pia Bintang Baturiti, toko ini juga menjual beberapa jenis makanan lain. Selain itu di belakang toko juga ada restoran, bisa makan atau hanya sekedar ngopi menikmati kesejukan udara di tempat ini.

Lalu bagaimana kalau rute Bedugul atau Bali Utara tidak ada di dalam rencana liburan anda? Mungkin bisa memilih mengirim Gojek untuk membeli dari gerainya yang berada di Denpasar. Tentunya bisa saja pergi sendiri. Tapi kalau seperti kebanyakan wisatawan lain anda menginap di seputaran Kuta, untuk mencapai gerai Pia Bintang Baturiti yang berada di kawasan Kebo Iwa Utara ini mungkin perlu lebih dari 2 jam bolak-balik. Bisa juga memesan dari Tokopedia, tapi harganya sudah berbeda.

Informasi Wisata indonesia

Informasi lengkap mengenai tempat-tempat wisata Indonesia termasuk keterangan, foto, dan lokasi. Anda dapat merencanakan perjalanan wisata dengan akurat berdasarkan informasi tersebut, menyesuaikan dengan selera, rute perjalanan, dan anggaran yang anda sediakan.

Ulasan Produk Pariwisata Indonesia

Selain tempat wisata, fasilitas wisata merupakan elemen yang tidak kalah penting. Hotel, restoran, sampai tempat-tempat belanja cindera mata. Kami menyediakan ulasan yang independen. Baik kami sebut baik, buruk kami sebut buruk. Dengan demikian anda bisa memilih dengan bijak.
Go to Top