Lihat Foto-Foto Lainnya
Pilih Paket Wisata

Hotel dan Akomodasi Lain yang Terdekat

Kawasan Pura Luhur Uluwatu relatif terpencil. Selain itu kawasan hutan sekitar Pura Uluwatu merupakan kawasan khusus penyangga kesucian pura sehingga tidak boleh dibangun. Hotel terdekat-pun jaraknya relatif jauh. Kunjungan ke Pura Uluwatu biasanya dilakukan sekalian dengan mengunjungi tempat-tempat lain di kawasan ini, jadi memang tidak esensial untuk menginap dekat-dekat.

Hotel Bintang 3 Bali

Pecatu Guest House

Mulai dari Rp. 134.649 / malam.
Hotel Bintang 2 Bali

Puri Uluwatu Villas

Mulai dari Rp. 1.022.727 / malam.
Hotel Bintang 2 Bali

Padang-Padang Breeze

Mulai dari Rp. 247.933 / malam.
Hotel Bintang 3 Bali

Hidden Valley Resort

Mulai dari Rp. 824.132 / malam.
Hotel di Bali Lainnya
Bagi wisatawan biasa yang bukan penganut agama Hindu, bangunan Pura Luhur Uluwatu mungkin tidak nampak spektakuler. Kebanyakan wisatawan mengidentikan pura dengan bangunan beratap bertingkat yang menjulang seperti menara yang dikenal dengan sebutan meru. Jika di pura lain tinggi bangunan yang bisanya merupakan bagian paling suci ini bisa memiliki 9 bahkan 11 tingkat atap, meru di Pura Luhur Uluwatu hanya memiliki 3 tingkat atap. Meskipun demikian dari begitu banyak pura di Bali, dalam tatanan kepercayaan Umat Hindu pura yang diperkirakan didirikan pada abar ke-11 ini termasuk salah satu pura paling sakral. Sementara itu bagi wisatawan pura ini juga merupakan salah satu yang secara visual sangat menakjubkan dan karena itu wajib masuk ke dalam agenda wisata anda.

Pura Luhur Uluwatu atau banyak orang memilih menyingkat namanya dengan hanya menyebut Pura Uluwatu berdiri di atas tebing karang yang menjulang tinggi di atas Samudera Indonesia. Konon ketinggian tebing karang ini mencapai 97 meter. Jauh di kaki tebing sama sekali tidak ada pantai berpasir. Kalau kita melongok ke bawah dari bibir tebing, yang nampak adalah ganasnya gelombang samudera menerjang kerasnya karang, terus menerus sepanjang waktu. Keberadaan Pura Luhur Uluwatu didukung oleh kawasan suci dengan radius 5 kilometer dari pura. Seluruh kawasan suci ini diselimuti hutan, tidak ada bangunan lain di kawasan ini selain bangunan-bangunan suci yang mendampingi Pura Luhur Uluwatu itu sendiri, yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan.

Daya Tarik Pura Luhur Uluwatu

Arsitektur

Meskipun meru di Pura Luhur Uluwatu hanya memiliki atap bertingkat 3, tetapi kalau diperhatikan lebih dekat tatanan arsitektur pura ini tidak kalah menarik dibandingkan dengan pura-pura lain di Bali. Bagian paling suci di pura ini memang tidak bisa masuki wisatawan. Tapi jalan setapaknya ditata sedemikian rupa sehingga kita bisa menikmati cukup banyak bagian artistik dari pura ini. Selain meru yang bisa kita lihat dari bibir tebing, kita juga bisa melihat gerbang batu yang berukir indah sebagai pintu masuk menuju bagian yang hanya bisa dimasuki Umat Hindu untuk bersembahyang. Selain itu kita juga bisa melihat cukup dekat pura-pura lain yang berdiri sebagai pendamping pura utama.

Panorama

Berada di bibir tebing yang menjulan tinggi di atas samudera, kawasan Pura Luhur Uluwatu menwarkan panorama menakjubkan yang memadukan kehijauan hutan, dinding tebing karang, dan laut yang membiru sampai ke batas cakrawala. Untuk menikmati keindahan panorama di kawasan ini, membentang di sepanjang bibir tebing dibangun jalan setapak berpaving yang cukup lebar. Selain nyaman dilintasi juga aman karena di sisi yang berhadapan langsung dengan tebing berdiri pagar beton yang kokoh, cukup tinggi untuk memastikan keselamatan tapi tidak sampai mengganggu kenyamanan menikmati panorama.

Tebing tempat bagian utama ini berdiri tidak segaris dengan tebing di sekitarnya melainkan menjorok seperti anak panah, sehingga bahkan dari kejauhan tetap terlihat jelas. Meskipun bangunan Pura Luhur Uluwatu relatif kecil, tetapi karena posisinya yang berdiri tepat di bibir tebing yang , bangunan pura menjadi bagian yang membuat panorama ini menjadi sangat memukau. Bisa dibayangkan kalau pemandangannya hanya biru gelap lautan dan biru terang langit yang bertemu di batas cakrawala, pasti alih-alih berkesan justru akan sangat membosankan. Jalan setapaknya dibangun mengapit bagian tebing yang menjorok tempat puranya berdiri, sehingga kita bisa melihatnya baik dari sisi utara maupun sisi selatan.

Panorama Sunset

Meskipun berada di ujung semenanjung selatan Bali, tebing tempat Pura Luhur Uluwatu berdiri menghadap ke arah barat, jadi tidak perlu penjelasan panjang lebar lagi mengapa pura ini menjadi salah satu tempat favorit untuk menikmati panorama sunset di Bali. Tergantung tempat yang kita pilih untuk memandang, kita bisa melihat bola matahari terbenam tepat di belakang pura atau di atas laut di depan pura. Mereka yang menyempatkan untuk menikmati panorama sunset di Pura Uluwatu biasanya membawa pulang foto siluat pura dan tebing tempatnya berdiri dengan semburat merah matahari terbenam sebagai latar belakangnya. Belum punya foto seperti itu? Lain kali berlibur di Bali jangan lupa untuk menghabiskan sunset di pura ini.

Hutan Suci

Kawasan di sekitar Pura Uluwatu merupakan hutan yang disakralkan karena merupakan kawasan penyangga kesucian pura. Karena itu hutan ini dibiarkan hijau tanpa terganggu keberadaan bangunan apapun. Hutan ini dihuni banyak kera yang keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri. Tapi anda perlu berhati-hati karena kera-kera penghuni hutan kawasan ini cenderung agak nakal. Dalam sekejap barang-barang kecil yang anda bawa seperti kaca mata, dompet, tas, atau kamera bisa berpindah tangan. Si kera bisa langsung kabur membawanya entah ke dalam hutan, ke atas pohon, atau bahkan ke tebing. Kalau sudah begitu untuk mendapatkannya kembali bukanlah hal yang mudah, dan belum tentu juga berhasil.

Kecak

Berdiri di tepi tebing menghadap samudera, masih di kawasan Pura Luhur Uluwatu, berdiri sebuah panggung terbuka dimana setiap hari digelar pentas Tari Kecak. Tarian tradisional Bali yang yang menceritakan penggalan kisah epos Ramayana tentang kedigdayaan sekaligus kesaktian tokoh berwujud kera bernama Hanoman ini terasa “nyambung” dengan keberadaan ratusan kera yang hidup di hutan yang mengelilingi panggung. Karena melibatkan banyak unsur api, Tari Kecak Bali memang selalu digelar selepas senja, setelah hari mulai gelap. Di Uluwatu sendiri pagelaran Tari Kecak ini dimulai pukul 6 sore, saat matahari mulai tenggelam. Pentas tarian dengan banyak unsur api ini terasa lebih memukau dengan latar belakang sunset.

Banyak pengunjung biasanya bingung memilih antara menikmati panorama sunset atau menonton Tari Kecak. Karena meskipun kita masih bisa menikmati kecantikan langit senja sambil menonton Tari Kecak, konsentrasi pasti terpecah. Apalagi dalam keadaan duduk di depan panggung, kita tidak mungkin berfoto-foto mengabadikan matahari yang terbenam melintasi cakrawala persis di belakang siluet pura.

Sekarang ada sejumlah tempat wisata lain yang menggelar Tari Kecak setiap sore, diantaranya GWK, Pura Tanah Lot, dan Pantai Pandawa. Tapi sejauh ini pentas Tari Kecak Bali di Uluwatu ini masih yang paling spektakuler.

Monyet Uluwatu

Berhati-hatilah saat berhadapan dengan kera-kera penghuni Hutan Kekeran, hutan penjangga kawasan suci Uluwatu. Mereka bisa ada dimana saja, tapi biasanya ada di sepanjang jalan setapak di tepi tebing. Jangan “iseng”. Meskipun belum pernah terdengar ada kasus wisatawan yang terkena Penyakit Rabies akibat gigitan nyamuk, patut diingat bahwa kera adalah salah satu hewan yang dapat membawa virus mematikan itu selain anjing, kucing, dan kelelawar. Sementara itu Bali sampai saat ini masih merupakan kawasan yang tidak bebas rabies.

Waspadai barang-barang bawaan, terutama yang berukuran kecil dan mudah dibawa seperti kacamata, dompet, tas, kamera, handphone, dan sejenisnya. Gerakan mereka sangat cepat. Tanpa anda sadari barang-barang tersebut bisa dicuri monyet dan dibawa kabur entah ke dalam hutan, ke atas pohon, atau ke dalam tebing. Kalau sudah begitu, mendapatkannya kembali bisa jadi sesuatu yang sulit dan mahal.

Menuju Pura Uluwatu

Kita pastinya tahu kalau Pulau Bali memiliki semenanjung yang berbentuk seperti tetesan air di bagian selatan. Pura Uluwatu berada di ujung paling selatan semenanjung tersebut. Jaraknya lumayan jauh. Jika anda berangkat dari seputaran Kuta, dengan mobil perlu setidaknya 1 jam dalam kondisi lalu lintas normal. Menjelang sunset, lalu lintas ke arah Uluwatu biasanya sangat padat, baik oleh wisatawan yang menuju Pura Uluwatu maupun tempat-tempat lain. Di kawasan seputaran Jimbaran dan Pecatu yang terlewati dalam perjalanan menuju Uluwatu memang banyak tempat yang terkenal dengan keindahan sunsetnya.

Arahkan kendaraan menuju Nusadua melalui ByPass Ngurah Rai. Pada persimpangan lampu merah kedua setelah melewati bundaran Bandara berbeloklah ke kanan. Patokan persimpangan ini adalah gerai Mc Donalds dan KFC di kanan jalan. Ikuti terus jalan yang menanjak dan berliku-liku melintasi kawasan Kampus Universitas Udayana ini. Saat anda bertemu dengan persimpangan dimana ada SPBU Pertamina di kanan, belok ke kiri. Lanjut, saat anda bertemu persimpangan lagi dimana ada ATM BNI Drive-Thru di kiri jalan, ambil arah kanan. Ikuti jalan ini sampai habis. Setiap ada persimpangan atau pertigaan, ambil jalan utama. Jalan ini akan berakhir di kawasan parkir Pura Uluwatu.

Catatan

  • Kawasan pura dibuka dari pukul 7.30 pagi sampai selepas sunset.
  • Berpakaianlah yang sopan. Usahakan memakai atasan berlengan dan bawahan yang menutupi lutut.
  • Semua pengunjung akan diberikan selendang untuk diikatkan di pinggang, pakailah dengan semestinya.
  • Hargai petunjuk, jangan memasuki kawasan yang tidak boleh dimasuki.
  • Paling ramai di saat sunset, jadi kalau mau menikmati sunset di Uluwatu, pastikan berangkat awal karena jalan mungkin akan macet.
  • Hati-hati dengan kera, kalau barang anda dicuri, segera menghubungi petugas untuk minta bantuan.
  • Untuk melihat pentas Tari Kecak, harus membayar lagi, tiket bisa dibeli di depan panggung di selatan pura.
  • Di dalam kawasan pura, setelah gerbang pemeriksaan tiket, tidak ada lagi pedagang. Kalau anda perlu membeli makanan dan minuman, tempat terakhir adalah pedagang-pedagang di kawasan parkir.

Tempat Wisata Lain yang Berdekatan

Seputaran kawasan Bukit Jimbaran dimana Bali Honeymoon Beach ini berada memang banyak memiliki pantai-pantai indah yang tersembunyi di bawah kaki tebing. Yang terdekat diantaranya Pantai Tegal Wangi yang terkenal sebagai tempat foto wedding dan pre-wedding dan Pantai Kubu di kawasan Ayana Resort.

Pantai Mengiat

Puja Mandala

Paragliding di Bukit Timbis

Pantai Nusadua

Waterblow Nusadua

Watersport di Tanjung Benoa

Naik Unta di Nusadua

Pantai Green Bowl

Pantai Tanjung Benoa

Tempat Wisata di Bali Lainnya

Restoran dan Fasilitas Wisata Lain yang Terdekat

Karena kawasan sekitar Pura Luhur Uluwatu merupakan daerah suci yang tidak boleh ada bangunan, tidak ada restoran atau fasilitas wisata lain yang dekat. Kalau kelaparan atau kehausan, yang ada hanya warung-warung di lapangan parkir. Restoran dan cafe terdekat jaraknya beberapa kilometer, tidak mungkin ditempuh berjalan kaki. Bisa aja sih, tapi ya jauh banget.

Review The Bar at Bvlgari Bali

The Bar at Bvlgari

Review Restoran Mak Jo Uluwatu Bali

Mak Jo

Review Warung Bejana Uluwatu Bali

Warung Bejana

Review Lands End Cafe Uluwatu Bali

Lands End Cafe

Restoran di Bali Lainnya